Artikel dan Berita

PENDIDIKAN DASAR, DASAR PENDIDIKAN

sditmgunterSaat ini hampir semua orang menyadari pentingnya pendidikan bagi anak-anak. Pendidikan yang diberikan kepada anak-anak disebut sebagai pendidikan dasar. Mengingat pentingnya pendidikan dasar ini pemerintah telah mengalokasikan dana triliunan rupiah. Dalam pandangan pemerintah semua anak Indonesia usia erikan pendidikan dasar ini bagi anak-anak wajib belajar (7-15) tahun harus mendapatkan pendidikan dasar yang merupakan hak mereka. Oleh karena itu Pemerintah Indonesia merumuskan dan telah mengimplementasikan program Bantuan Operasional Sekolah (BOS) sejak  tahun 2009. Kebijakan ini merupakan realisasi dari Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pasal 34 ayat 2 yang menyebutkan bahwa Pemerintah dan pemerintah daerah menjamin terselenggaranya wajib belajar minimal pada jenjang pendidikan dasar tanpa memungut biaya, sedangkan dalam ayat 3 menyebutkan bahwa wajib belajar merupakan tanggung jawab negara yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat. Konsekuensi dari amanat undang-undang tersebut adalah Pemerintah dan pemerintah daerah wajib memberikan layanan pendidikan bagi seluruh peserta didik pada tingkat pendidikan dasar (SD dan SMP) serta satuan pendidikan lain yang sederajat.

Berbicara mengenai pendidikan dasar, sebenarnya apa tujuan utama dari pendidikan dasar itu sesungguhnya? Tujuan pendidikan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut (http://file.upi.edu). Pendidikan dasar ini dilaksanakan untuk membina sikap, moral dan kemampuan siswa serta memberikan ketrampilan-ketrampilan dasar yang dibutuhkan untuk hidup dalam masyarakat serta menyiapkan peserta didik untuk mengikuti jenjang pendidikan menengah. Dengan konsep tersebut maka pendidikan dasar dapat dikatakan sebagai dasar pendidikan bagi peserta didik. Pada jenjang pendidikan dasar inilah diletakkan dasar-dasar kehidupan bermasyarakat yakni sikap dan moral. Sikap dan moral ini menjadi modal yang sangat penting bagi peserta didik agar dapat hidup dalam masyarakat secara baik. Untuk itulah, maka pada jenjang pendidikan dasar ini guru harus benar-benar memiliki sikap dan moral yang baik yang pada gilirannya akan ditransfer ke peserta didik. Disadari atau tidak, guru, bagi anak-anak sekolah dasar dimana pendidikan dasar diberikan merupakan role model, yang akan ditiru habis-habisan oleh peserta didik. Demikian juga halnya dengan kurikulum yang seharusnya diorientasikan untuk membangun sikap dan moral peserta didik agar sesuai dengan nilai-nilai yang berkembang di masyarakat. Pada titik ini keberadaan guru dan kurikulum menjadi sangat sentral dalam pendidikan dasar.

Betapapun sentral peran guru dan kurikulum, namun hal ini tak cukup. Orang tua juga memiliki peran yang tidak kalah pentingnya. Sebaik dan sehebat apapun guru mendidik sikap dan moral anak didik, jika tidak ada dukungan orang tua di rumah, maka semua itu tidak akan berarti banyak. Oleh sebab itu komunikasi orang tua dan guru harus terbangun dengan baik. Komunikasi itu tidak semata-mata dalam rapat-rapat formal, tetapi lebih dari itu juga perlu dibangun komunikasi informal melalui berbagai media yang ada.

Tak dapat dipungkiri bahwa saat ini media sosial begitu digandrungi anak-anak. Pengalaman saya mengelola akun media sosial sebuah sekolah dasar, ternyata banyak sekali siswa-siswi sekolah tersebut yang telah memiliki dan memainkan secara aktif akun pribadinya. Dalam titik inilah, menurut saya sebaiknya orang tua juga memiliki kesadaran dan kemauan untuk juga memiliki akun-akun medsos dalam rangka memantau anak-anaknya. Demikian para guru juga sebaiknya masuk ke dunia mereka di media sosial. Guru dan orang tua tidak bisa lagi menafikkan masalah media sosial ini, karena memang inilah masanya, inilah jamannya. Bukankah setiap generasi memiliki jamannya sendiri? Dan jaman sekarang adalah jamannya medsos. Inilah sarana kita para guru dan orang tua memantau anak-anak kita kemana dan apa yang mereka ‘mainkan’. Jangan sampai kita membiarkan terjadinya split personality (kepribadian ganda) dalam diri anak kita. Di dunia nyata sepertinya menjadi anak yang sangat baik, tetapi timeline mereka di dunia maya justru mengerikan, penuh dengan kata-kata kotor, umpatan, dan sebagainya.

Pada akhirnya pendidikan dasar memberikan tekanan kepada belajar untuk mengetahui (learning to know), belajar untuk melakukan (learning to do), belajar menjadi dirinya sendiri (learning to be) dan belajar hidup bersama (learning to live together), yang semuanya ini merupakan bekal untuk terus belajar di jenjang pendidikan lebih lanjut. Inilah esensi dari pendidikan yang harus diselenggarakan oleh institusi-institusi pendidikan, khususnya di tingkat pendidikan dasar. Namun demikian semua ini dapat tercapai jika ada peran aktif dari semua elemen: penyelenggara pendidikan, guru, orang tua dan masyarakat.

Eko Budi Sulistio, S.Sos, M.AP
Sekretaris MPDM PCM Langkapura
Email: sulistio.eb@gmail.com
Sumber: staff.unila.ac.id/ekobudisulistio
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *