Artikel dan Berita

USIA ANAK MENJELANG BALIGH (10 – 13 tahun)

Oleh:

Nurmalia Syihli, S.Pd

Fase usia ini biasa disebut fase puber, yang dimaksudkan sebagai peralihan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa. Ada juga yang mengistilahkan ABG “ Anak Baru Gede”. Kelompok usia ini sudah tidak mau lagi dikatagorikan sebagai anak-anak, tetapi belum siap juga dikelompokkan menjadi dewasa, dengan segala konsekuensinya.

Karena dalam masa transisi, mereka kerap dibebani dengan kondisi “masa pencarian jati diri”. Masa dimana mereka belum mendapat arah yang jelas, sehingga dalam masa pencarian ini terkesan tidak masalah jika ada kesalahan –kesalahan yang masih terjadi, yang kemudian dianggap wajar oleh masyarakat dengan sebuah permakluman, “maklum, masih ABG …..”.

Ketika tawuran merebak, disko dan minuman keras menjadi hiburan, pergaulan bebas dan zina menjadi trend bahkan narkoba pun dijadikan sahabat, orang hanya bisa mengelus dada sambil mengeluh, ”begitulah jiwa muda…..”Apakah memang demikian yang harus kita maklumi?

Sama sekali tidak, Hal demikian tidaklah terjadi di zaman Rosullullah. Yang membagi fase perkembangan anak dengan masa puber sebagai masa transisi ini adalah ilmu psikologi dari barat.  Sementara dalam Islam, semestinya fase perkembangan tersebut secara garis besar hanya dibagi menjadi dua, yaitu masa kanak-kanak dan dewasa.

Masa kanak-kanak adalah dihitung hingga sebelum akil baligh, sementara setelah akil baligh anak sudah langsung dianggap sebagai orang dewasa yang sudah dibebani oleh aturan syariah dan menanggung beban mukhallaf, yang sudah terbebani dosa jika tidak melaksanakan aturan syariah. Jadi begitu datang akil baligh, anak perempuanpun menjadi gadis yang sudah wajib menutup aurat, menjaga pergaulan dan menahan pandangan. Sementara anak laki-laki pun menjadi pria dewasa yang wajib mandi jika mendapat mimpi basah, menjaga pergaulan, menahan pandangan, bahkan siap untuk pergi berperang.

Didalam ajaran Islam, tidak adalagi yang di sebut masa pencarian jati diri, karena tanggungjawab kehidupan jelas-jelas sudah ada dipundak remaja dewasa ini. Tanggungjawab ini tidaklah berat bagi mereka, karena sesungguhnya direntang usia ini, seseorang sedang ada di puncak pengembangan potensi. Hormon testosteron yang di produksi laki-laki membuat mereka memiliki tenaga luar biasa yang harus di salurkan. Begitu juga hormon adrenalin untuk anak perempuan, juga menghasilkan produksi tenaga yang siap disalurkan untuk proyek yang positif.

Karena masa dewasa datang beiringan dengan masa akil baligh, maka sebelum datang masa itu, di akhir masa kanak-kanak, mereka sudah harus dibekali dengan kemampuan dan pembiasaan hidup melaksanakan syariah Islam. Menutup aurat misalnya sudah dibiasakan sejak usia 7 atau 8 tahun, supaya di saan kedewasaan datang, mereka sudah siap untuk tidak melepas jilbab lagi. Demikian juga anak laki-laki sudah dilatih berperang diusia-usia tersebut sehingga ketika masuk usia dewasa mereka pun langsung siap membela agama dengan nyawanya.

Maka di fase usia 10 – 13 tahun ini, jelas sekali bedanya antara ajaran Islam dengan ajaran barat. Ajaran Islam jauh lebih bermanfaat, sehingga tidak ada lagi masa-masa transisi, masa dimana remaja mudah tergiur asmara, tawuran dan narkoba. Karena potensi energi dan keberanian mereka sudah tersalurkan ke hal-hal positif.

Akan menjadi masalah jika di usia ini mereka tak mendapatkan peluang positif untuk berkarya dan berprestasi. Maka menjadi tanggungjawab orangtua untuk mencarikan peluang dan kegiatan tersebut. Doronglah remaja dewasa ini untuk mengikuti kursus-kursus keterampilan yang mereka minati, mengikuti berbagai lomba dan kompetisi atau kreatifitas diberbagai perkumpulan remaja yang positif. Mereka harus dibuat sibuk dan lelah dengan aktivitas yang menyenangkan, sehingga bisa menghindari godaan-godaan hawa nafsu dari lingkungan yang luar biasa ganasnya. (Nurmalia S./EBS 140210).

(dikutip dari buku Mengenalkan Alloh dengan Cinta Karangan Irawati Istadi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *