Artikel dan Berita

TEKNIK PEMBELAJARAN ABAD 21 DI SEKOLAH DASAR

Oleh  Wiwin Alwiningsih, S.Pd.*

Sejak beberapa dasawarsa terakhir, istilah globalisasi sering didengungkan sebagai suatu kondisi yang harus dihadapi oleh setiap bangsa.Globalisasi berarti sebuah proses terbentuknya suatu tatanan, aturan-aturan, atau system yang berlaku bagi seluruh bangsa dan masyarakat di dunia yang tidak lagi dibatasi oleh sekat-sekat lokal atau regional. Ini berarti bangsa Indonesia saat inipun telah menjadi bagian masyarakat global tersebut. Hal ini diperkuat dengan mulai diberlakukannya MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) sejak 2016 lalu.

Menjadi anggota masyarakat global di abad 21 berarti bangsa Indonesia harus memiliki kompetensi-kompetensi tertentu guna bersaing di era globalisasi ini.Kompetisi semakin ketat karena persaingan tidak hanya terjadi dengan bangsa sendiri namun juga dengan bangsa lainnya. Maka satu-satunya cara untuk bisa bertahan adalah dengan meningkatkan mutu atau kualitas diri. Dengan demikian perlu adanya perubahan mendasar untuk membangun kehidupan yang lebih baik di abad 21 ini.Perubahan diperlukan terutama jika kita menginginkan anak cucu kita tetap terpenuhi kebutuhannya di masa mendatang.Salah satu tindakan yang bisa dilakukan adalah dengan membenahi system pembelajaran kita atau meningkatkan kualitas praktik belajar mengajar yang ada di sekolah.Supaya tercipta peserta didik yang mampu bersaing secara global. Pembelajaran bermutu sangat diperlukan terutama untuk memberikan kecakapan dan keterampilan yang dibutuhkan peserta didik.Seperti literasi dasar (membaca, matematika, dan sains) kemampuan berfikir kritis, kreatif yang merupakan kompetensiuntuk menghadapi tantangan dan tuntutan abad 21.

Jika kita melihat indeks daya saing global yang dikeluarkan oleh World Economic Forum tahun 2015 lalu Indonesia hanya menempati urutan ke-34 jauh dibawah Thailand, Malaysia, dan Singapura yang merupakan negara-negara terdekat Indonesia. Ditambah lagi dengan laporan tahunan penelitian United Nation Development Programme (UNDP) di tahun yang sama, Indonesia berada dalam kelompok negara dengan tingkat pengembangan sumber daya manusia yang menengah (medium human development). Dibandingkan dengan negara-negara tetangga seperti Brunai Darussalam, Singapura, Thailand dan Malaysia posisi Indoensia-pun tetap berada di bawah negara-negara tersebut. Selain itu, berdasarkan laporan dari OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) tentang PISA (Programme for International Student Asessment) yang diselenggarakan untuk mengukur mutu, ekuitas, dan efisiensi pendidikan di sekolah, Indonesia bahkan menempati rangking ke 64 dari 65 negara atau nomor dua dari bawah di atas Peru. Lagi-lagi posisi Indoensia masih jauh di bawah Negara-negara tetangga terdekat (Thailand 50, Malaysia 52).

Laporan PISA tersebut terkait penguasaan literasi dasar (membaca, berhitung, dan menulis) pada jenjang sekolah dasar kelas 4 yang hasilnya dijadikan penanda umum dari suatu pembelajaran yang diselenggarakan di sekolah-sekolah di Indonesia. Hasil laporan tersebutmenunjukkan bahwa proses pembelajaran yang telah dilakukan belum bisa menunjang dan menghasilkan generasi terdidik dengan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan abad 21. Rendahnya tingkat literasi dasar ini menunjukkan adanya persoalan dalam proses belajar-mengajar yang terselenggara di sekolah.Berbagai persoalan tentang pembelajaran sebenarnya sudah menjadi sorotan dari kalangan ahli dan praktisi pendidikan. Karena itu, dalam proses pembelajaran, guru dan tenaga kependidikan dituntut untuk merubah teknik pembelajaran yang biasa diterapkannya, dari yang bersifat konvensional (teacher oriented) mejadi pembelajaran kooperatif (student oriented) dengan berbagai macam metodenya (Jigzaw, STAD, Think Pair Share, dan sebagainya).

Berdasarkan laporan PISA di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa jenjang sekolah dasar dijadikan sebagai salah satu patokan untuk menilai tingkat literasi suatu bangsa. Hal ini berarti proses pembelajaran pada jejang tersebut sangatlah krusial. Tidak hanya itu, pada jenjang sekolah dasar semua kebiasaan baik serta untuk menciptakan pembelajar sepanjang hayat, semua dimulai dari jenjang sekolah dasar.

Saat ini, marikita melihat kembali proses pembelajaran yang ada pada jenjang sekolah dasar kita, apakah proses pembelajaran yang dilakukan sudah mengacu pada pembelajaran yang menyenangkan? Sudahkan output yang dihasilkan dari pembelajaran yang guru lakukan telah memberikan makna yang mendalam bagi peserta didik? Guru dan tenaga pendidikmembutuhkan teknik pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna agar para siswa memiliki kompetensi yang dibutuhkannya.

 Pembelajaran di Sekolah Dasar

Di era seperti sekarang ini peningkatan mutu sekolah dasar harus menjadi perhatian utama.Seperti yang disampaikan oleh Haruji Nakamura, bahwa pendidikan dasar adalah hal yang sangat penting.Melalui pendidikan sekolah dasar penanaman karakter, kebiasaan, dan kesenangan terhadap sesuatu akan terbentuk. Bahkan menciptakan pembelajar seumur hidup dapat kita mulai dari jenjang ini. Dengan menggunakan teknik pembelajaran yang menyenangkan seorang guru akan mudah memengaruhi dan mengarahkan siswa-siswanya dalam proses belajar mengajar, mereka akan sangat beratusias, termotivasi, dan akan mampu mengembangkan dirinya tanpa rasa takut. Berikut teknik pembelajaran sederhana yang dapat  guru lakukan:

  1. Setting kelas semenarik mungkin

Guru bisa memulai dari settingruang kelas yang menarik. Kelas merupakan sepetak ruangan dimana anak-anak akan menghabiskan waktunya. Tempat inilah yang akan dituju siswa ketika kakinya melangkah pergi ke sekolah, disinilah mereka akan berkutat dengan berbagai kegiatan yang akan mereka ulang setiap harinya selama 6 tahun pendidikan dasar. Mereka akan tampak seperti robot jika ruang kelas sama sekali tidak menarik dan tidak difungsikan secara maksimal. Kreativitas mereka tidak akan tergali apabila ruang kelas tidak didesain untuk memberi penghargaan pada hasil karya mereka. Mereka akanmerasa cepat bosan dan selalu ingin keluar apabila ruang kelas mereka tetap monoton.

Oleh karena itu, mendesain kelas merupakan salah satu langkah untuk membuat otak anak menjadi rileks sehingga anak-anak akan tampak seperti manusia bukan robot,  kreatifitas dan rasa ingin tahu mereka dapat terangsang, dan mereka akan lebih merasa nyaman dalam kelas. Guru bisa memaksimalkan fungsi dinding kelas sebagai media informasi yang menarik. Misal,memajang hasil kreativitas siswa, memasang poster atau gambar-gambar yang mewakili materi belajar, tambahkan kuis interaktif yang bisa siswa baca atau kerjakan saat istirahat, dan buat kelas berwarna-warni dengan hiasan-hiasan yang menunjang kegiatan belajar mengajar di kelas.Hal ini dimaksudkan untuk merangsang rasa ingin tahu anak-anak. Dengan demikian, diharapakan siswa akan merasa senang bahkan sebelum pelajaran dimulai.

  1. Lakukan Orientasi yang Unik

Masih  ingat kata yang dulu sempat populer “kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah Anda” jargon tersebut bukan hanya sekedar kata tanpa makna tapi hal itu juga berlaku dalam proses pembelajaran dalam kelas.Sebagai guru pernahkah kita bertanya pada diri sendiri “mengapa disetiap pembelajaran anak-anak masih sering tidak memerhatikan pelajaran yang kita sampaikan?”Bisa jadi karena anak-anak merasa bosan sejak pertama kali guru memulai pembelajarannya, oleh karena itu jangan melewatkan yang namanya orientasi.

5 menit pertama akan sangat berpengaruh terhadap pembelajaran yang sedang dilakukan oleh guru. Sayangnya guru tidak bisa membuat kesan pertama untuk kedua kalinya, jadi pastikan guru dapat  merebut hati anak-anak dengan memberi kesan pertama yang mendalam dengan melakukan orientasi yang berbeda dari biasanya dan unik. Anak-anak menyukai sesuatu yang berbeda. Hal yang berbeda/unik akan sangat menarik perhatian mereka. Bayangkan bagaimana reaksi anak-anak  ketika gurunya tiba-tiba masuk kelas dengan berpakaian adat lengkap untuk menunjukkan berbagai macam kebudayaan nusantara. Atau sang guru memakai pakaian seperti pakaian orang-orang zaman dulu untuk menyampaikan materi sejarah. Tentu hal tersebut akan selalu diingat dalam memori otak anak sampai kapanpun. Selanjutnya jangan lupa sampaikan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat individu kepada masing-masing anak supaya mereka merasa spesial.Hal ini dilakukan untuk mengurangi kekakuan dan membuat otak anak rileks sehingga mereka dapat menerima pelajaran dengan senang hati.

  1. Penyampaian materi ajar yang menyenangkan

Setelah anak-anak merasa nyaman selanjutnya masuki pikiran mereka dengan materi-materi pembelajaran yang sudah guru siapkan.Pada tahapan ini sebaiknya guru sudah memahami kelebihan dan kekurangan setiap anak. Sehingga proses pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan anak. Mengacu pada perkembangan abad 21 pembelajaran sebaiknya dilakukan dengan model pembelajaran kolaboratif dimana siswa dituntut untuk dapat bekerja sama.

Dalam penyampaian materi ajar guru sebaiknya menggunakan visualisasi yang konkret bisa dalam bentuk gambar atau video. Penggunaan gambar sebagai media penyampaian informasi akan lebih cepat dipahami oleh anak-anak dibandingkan dengan ucapan lisan. Nah,apabila guru harus menggunakan metode ceramah, sebaiknya guru mengguankan bahasa tubuh. Hal ini seperti yang dikemukakan oleh Awie Suwandi dalam Munif Chatif, yang menyatakan bahwa bahasa tubuh memiliki 55% pengaruh dalam sebuah komunikasi, sedangakan cara pengucapan hanya 38%, dan kata-kata yang digunakan hanya berkontribusi 7% saja. Artinya, bahasa tubuh seorang guru dalam praktik pembelajaran sangat penting sebab hal itu ditangkap oleh siswa sebagai objek visual.Dengan demikian penggunaan gambar dan atau bahasa tubuh sangat penting guna memikat hati anak-anak sehingga mereka dapat terlibat aktif.

Penyampaian materi ajar tidak harus dilakukan didalam ruang kelas. Guru bisa mengajak anak-anak untuk menjelajah sekitar lingkungan sekolah, belajar di luar kelas. Dilain waktu guru bisa mendatangkan seorang petani dari ladangnya utuk mengajari siswa cara berkebun, atau mendatangkan polisi untuk menjelaskan tata tertib lalu lintas. Dengan cara-cara penyampaian materi ajar di atas, siswa pasti akan lebih antusias untuk mengikuti pembelajaran.

  1. Perpisahan yang berkesan

Sebelum meningglakan kelas, sebaiknya guru membuat kata-kata afirmasi yang dapat diingat dan dimaknai oleh siswa.Setelah itu ajak anak-anak untuk mengulangi materi ajar dan rayakan keberhasilan mereka mengulangi materi tersebut, ulangi dan rayakan.Dengan perkembangan teknologi yang cukup pesat seperti sekarang ini, guru tidak perlu memberikan reward dengan biaya tertentu.Gurubisa mengajak mereka berfoto bersama kemudian foto yang diambil dapat kita tempel dalam ruang kelas di hari selanjutnya saat tatap muka kembali sebagai reward.

Jika dalam proses pembelajaran guru menerapkan hal-hal sederhana di atas, sungguh pembelajaran itu akan masuk dalam memori jangka panajang anak-anak. Pembelajaran akan sangat bermakna sehingga harapan pendidikan untuk dapat menciptakan peserta didik sebagai pembelajar sepanjang hayat akan dapat tercapai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *